"Sayang, kapan kamu kesini?"
"Aku tidak tahu."
"Apa kamu tidak merindukanku?"
"Aku sangat merindukanmu."
"Lalu mengapa kamu selalu menunda-nunda untuk menemuiku?"
"Bukannya aku menunda-nunda, tapi aku menunggu waktu yang tepat."
"Jawaban yang kamu berikan hanya itu-itu saja dari dulu."
"Jika kamu mengetahuinya, mengapa kamu mempertanyakan hal itu-itu saja?"
"Jadi, kamu tidak merindukan aku? Atau kamu tidak menganggapku? Atau memang kamu sudah bosan dan mencoba mencari masalah agar berpisah denganku dengan mencari-cari kesalahanku?"
"Aku tahu. Aku tahu kita terhalang oleh jarak. Tapi bisakah kamu untuk bersabar? Mencari waktu yang tepat untuk kita bertemu." nada emosiku keluar memuncak. "Jika dari awal niatku seperti itu, mungkin sudah sejak dulu aku meninggalkanmu."
"Maaf. Maaf aku egois."
"Sudahlah... jangan buat waktu yang kita punya saat ini hanya untuk saling menyalahkan dan bertengkar. Aku mengerti kamu. Kamu hanya butuh diyakinkan. Tapi aku janji, aku akan menemuimu secepat mungkin."
"Terimakasih, sayang. Aku sayang kamu."
"Iya. Aku juga, sayang."
Aku memang terlalu sibuk dengan urusanku. Sampai-sampai aku tidak tahu kapan aku bisa meluangkan waktuku untuk menemuinya.
Kini rintikan gerimis itu berubah menjadi hujan. Membuat dedaunan disebrang sana basah dan melambai-lambai semakin cepat menandakan hujan turun dengan deras. Secangkir kopi yang begitu panas kini mulai dingin. Bersegeralah aku mengambil secangkir kopi itu sambil menatap hujan diluar sana lewat jendela yang kubuka, aku pun meminum secangkir kopi itu. Entah... rasa rindu yang ku rasakan semakin terasa saat mengingatnya. Percuma jika aku menghubunginya. Mau menghubungi siapa? nomor telfonnya sudah tidak ada. Aku hanya punya nomor telfon adiknya. Keluarganya. Tapi apa itu akan mengurangi rasa rinduku? Aku rasa tidak.
Aku memang menyesal. Bukan menyesal karna sering menunda-nunda pertemuan. Tapi aku sangat menyesal pada diriku yang terlalu cuek dan tidak peduli pada dirinya. Terlalu egois dan slalu menyepelekan masalah. Masalah rindu yang slalu menjadi alasan dia memaksaku untuk menemuinya. Sebenarnya wajar. Tapi entah mengapa aku begitu menyepelekannya dan menganggap itu hal kecil yang bisa dilakukan nanti nanti saja.
Kini dia... orang yang sangat menyayangiku harus pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Bukan karna dia diambil orang, bukan juga karna dia pergi meninggalkanku yang slalu membuatnya kesal atas perilakuku yang slalu menunda-nunda pertemuan. Tetapi dia pergi untuk menemui sang pencipta. Sedih. Sangat sedih. Memang baru terpikir saat ini mengapa aku begitu bodoh menyia-nyiakan permintaan dia untuk menemuinya. Padahal permintaan itu ternyata menjadi permintaan yang terakhir kalinya. Siapa yang tidak menyesal? Siapa? :')
Hari demi hari ku lewati bersama rasa bersalahku. Rasa bersalah yang tak akan hilang. Ingin rasanya bertemu dengan dia hanya untuk mengatakan maaf. Meskipun dalam mimpi. Aku memang bodoh. Bodoh. Sangat bodoh. Aku memang tidak pernah merindukannya. Aku terlalu bahagia dalam dunia baruku disini, seakan aku tidak punya seseorang yang spesial dihidupku. Sekarang... aku hanya bisa meratapi kepergiannya untuk slama-lamanya. Sekarang... aku hanya bisa merasakan penyesalan karna kebodohanku. Harusnya aku tak lakukan ini. Ya! Tak lakukan ini. Tapi mungkin Tuhan sudah merencanakan yang terbaik untukku dan untuknya. Meski dengan perpisahan. Meski dengan mengambilnya dia dariku.
"Sayang, maafkan aku. Aku sangat menyesal telah menganggap sepele rasa rindumu itu. Sayang, andai kamu tahu, disini aku menangis. Dihadapan batu nisan yang bertuliskan namamu, aku mencoba untuk mengingat semua tingkah manjamu, marahmu, tawamu. Sayang, semoga kamu bahagia dirumah sang pencipta. Semoga kamu slalu mengingat aku. Semoga kamu tahu, bahwa disini aku slalu mencintaimu."
Aku slalu mengingat kalimatku yang ku katakan ditempat peristirahatan terakhirmu. Selamat jalan, sayang. Aku hanya bisa mengenang semua itu. Kini kamu telah menghadap-Nya. Dan kini aku tlah sadar dan mencoba belajar untuk tidak menyia-nyiakan orang yang sangat berharga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar